Kamis, 05 Juli 2012

DINAMIKA HIDUP (IV)

Masalahnya mereka tahu..
Ntah apa motivasinya, tetapi yang jelas mereka tahu bahkan paham itu adalah salah besar!


Beranjak dari sebuah studi kasus disertai analisa panjang, akhirnya saya temukan satu kesimpulan besar terkait makna "fasik" itu sendiri.
Dalam beberapa kasus, sering kita jumpai beberapa lakon kehidupan yang memanfaatkan kehidupannya dengan apa yang semestinya dia lakukan sebagai hamba Alloh.
Ibadah sesuai syariat sudah biasa, sesuai rukun dan tentunya disesuaikan dengan kapabilitas masing-masing hamba-Nya.
Berkejar-kejaran dengan waktu dan menyimpulkan akan arti sebuah kehakikian. Yang makna kurang lebih beracuan kepada fitrah sebagai Muslim yang kaffah.
Berat memang!
Mempertahankan ideologi yang seharusnya memang diperjuangkan. Tetapi inilah adanya, bergelumat dengan khayal dan tak jarang banyak "oknum" merasuki hingga akhirnya terjerembab pada kubangan penuh "sampah", : sampah!

Sayangnya,
tidak mereka sadari, bahwasannya itu semua didasari akan arti sebuah komitmen dan janji ketika dahulu mereka diciptakan dari segumpal daging dan setetes mani, geli memang!

Kecil, Hingga akhirnya dewasa.
Tetapi tidak bosan rasanya akan aktifitas penuh kecemasan membedakan hitam dan putih, membedakan manis dan pahit atau senang dan sedih.
Seakan semua berbaur, hingga akhirnya ditemukan sebuah carik penuh makna : FASIK!

Pertanyaannya : "Kapan bangkit???"
Tak resahkah dengan kedudukan saat ini? Kedudukan yang seharusnya dapat menjalankan aktifitas sebagaimana mestinya.
Kedudukan sebagai seorang jundi, sekaligus dai, pemangku dakwah ini untuk Islam lillahitaala ^^
Hanya sebatas celotehkah???
Hanya seumpama mimpikah??? Sementara realitanya nihil??? Miris yaa..
Disaat dewasa ini mengajarkan kita akan arti dari sebuah perjuangan dan persaingan. Lantas apa yang membuat kita masih berpangku tangan???
Lalu, apa yang masih membuat kaki ini sulit untuk berlari (Ingat berlari!)
***

Islam adalah sebuah metamorfosa panjang dari kejahiliyahan lalu kemenangan kembali kepada jahiliyah dan akhirnya kemenangan akan kembali direngkuh.
Yang jadi landasannya tetap pada jati diri kita sebagai seorang pejuang, bukan sebatas pemimpi yang bangga dengan mimpi-mimpi panjangnya, sementara masih enggan untuk mewujudkannya.



Perjalanan ini masih panjang, dan harus kita yakini akan sebuah makna : terjal, tandus dan sulit.
Terlihat seperti itu, tetapi yakini bahwasannya diujung sana ada gurun indah nan sejuk, yang akan kita jumpai sebagai sebuah kado termahal, serta upah akan perjalanan panjang kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar