Jumat, 09 November 2012

MUHASABAH DIPENGHUJUNG 22 (Part I)



QS. Fathir :Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfudz)
Sudah terang sekali bagi kita manusia bahwa ajal itu Alloh sajalah yang menentukan nya, disetiap hari kita melihat manusia lahir dan mati, sekalipun begitu masih ada manusia yang ragu, masih lari dan seakan tidak mau tahu tentang masalah mati, masih ragu apa dan bagaimanakah sesudah mati itu. Ragu, ragu dan ragu sekalipun sudah ratusan Nabi dan Rosul, sudah ribuan Ulama dan Ustadz yang menerangkannya.Mereka tetap ragu tentang hidup sesudah mati, tentang kehidupan di Akhirat. Dimanakah sumber keraguan itu lagi? Sedang bukti begitu banyak dan besar?
Bukanlah karena kurang bukti alasan, tetapi karena hidup mereka sudah terlalu tebal diselubungi oleh dosa demi dosa. Kekufuran ini bukan soal akal atau bukti , tetapi adalah soal dosa. Orang hidupnya diliputi oleh dosa, tidak akan sanggup melihat kebenaran.
Kebenaran bagi orang berdosa tertutup setebal tebalnya. Naudzubillah min dzalik..


Teringat beberapa tahun yang lalu, ketika ikut dalam sebuah pelatihan. Pada saat itu trainer bertanya pada seluruh (termasuk saya), terkait visi dan misi hidup. Masih lengkap dalam notes kecil saya waktu itu, tertulis beberapa asa dan cita, yang mungkin dari sekian banyak, baru tercapai beberapa, tidak mudah, butuh pengorbanan dan ini adalah bagian dari muhasabah itu.

Salah satu yang paling teringat adalah : Membahagiakan orang tua!

Simple, tetapi entahlah. Apa yang menyebabkan fikiran itu semakin menderu, ketika memang kata-kata bahagia itu dikaitkan dengan amalan-amalan yang selama ini saya lakukan.
22 Tahun, bukanlah sembarang umur. Yang semestinya dewasa ini telah diraih, bukan hanya sebatas bibir. Tetapi memerlukan sebuah pembuktian. Ya Robbi.. Seberat inikah perjuangan ini? (bukan bagian dari keluh, hanya hasrat mengadu)


Saya pernah ditertawai satu kelas, ingat saya waktu itu adalah pada bangku sekolah dasar. Ketika pada saat itu sedang ramai-ramainya digandrungi demam "diary". Ya, semacam catatan kecil, yang kebanyakan dimanfaatkan anak-anak seumuran sebagai sebuah catatan kenang-kenangan, kemudian biodata dari teman-teman sebayanya. Sayapun turut larut dalam keramaian itu.
Ikut menulis lembar demi lembar, layaknya seorang remaja yang tumbuh kembang hingga seluruh cita-citanya tertuang disana.
Ah, saya fikir ini hanya guyonan semata. Tak apalah, sekedar pengisi waktu luang, lagipula mungkin lima, sepuluh atau beberapa puluh tahun kedepan, ini akan menjadi sebuah kenangan dan cerita lucu masa anak-anak.
Dan benar saja, ketika sesekali melirik catatan itu. Tidak jarang wajah geli yang didapatkan, sesekali tersenyum malu, simpul tak beralaskan. Banyak kata-kata ke-khas-an "anak-anak" yang jika dikaitkan dengan sekarang. Lucu!
Mulai dari biodata biasa, nama, ttl sampai dengan hobi, makanan kesukaan, sampai musik yang sedang ramai digandrungi.
Kemudian ada hal yang sontak membuat saya malu dan grogi saat membaca adalah, kata-kata yang seharusnya tidak ahsan (baik) dituliskan dalam catatan itu. Kata-kata itu adalah model wanita idaman. Haduh, masih kecil sudah galau yaa? Okelah, saya tanggapi mungkin itu bagian dari tahapan pubertas. Mudah-mudahan dimaklumi.
Semakin lembar, semakin dewasa agaknya. Terpampang kata-kata mulai puitis nan tertata, sangat berbeda sekali dengan halaman-halaman awal, yang lumayan (garing) dan tidak sedikit kata-kata yang tidak sesuai konteksnya (baca : ngga-nyambung).
Dalam halaman yang kesekian, tertulis sebuah misi anak sekolah dasar, yang kebanyakan menghabiskan lembar-demi lembarnya untuk menulis lirik lagu atau bahkan biodata teman-teman lainya. Tidak pada saya, ada satu point yakni membahagiakan orang tua.
Lagi-lagi saya dibuatnya bertanya, apa yang dimaksud kata-kata ini? Terlalu luas ah. Sudah sejauh mana? Saya lihat tanggal menulis saat itu adalah kisaran tahun 2000. Dan artinya sudah 12 tahun yang lalu? Kemudian apakah kata-kata itu telah tercapai?


Moment dipenghujung 22
Bersambung.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar