Selasa, 20 November 2012

Pantas Kita Lupa? Palestina?


Hampir sepekan sudah Gaza dibombardir. Sedikitnya 50 orang meregang nyawa dan ratusan luka berat. Israel mengklaim ratusan serangan rudal ke Gaza hanyalah tindakan bela diri atas tembakan roket yang dilakukan pejuang Palestina ke wilayah mereka.


Memasuki pekan pertama konflik, mayoritas penduduk Israel bersatu mendukung ekskalasi serangan. Penduduk di wilayah yang berbatasan dengan Gaza malah berharap pemerintah Israel melancarkan serangan darat dan melakukan pendudukan. Harapan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Tiga puluh ribu pasukan telah menempati posisi strategis di sepanjang perbatasan Palestina dan tujuh puluh ribu pasukan cadangan disiagakan. Israel jelas makin berani.

Negara terkuat di dunia masih setia mendukung. Obama yang terpilih untuk kedua kalinya 6 November lalu, terang terangan menyalahkan Palestina dan pemerintahan terpilih Hamas. Bagi negara yang mengucurkan bantuan militer senilai US$ 8 juta per hari itu, tidak ada satupun alasan legal bagi Palestina untuk melakukan tindakan militer terhadap pendudukan Israel.

Akar Konflik dan Amnesia Sejarah

Setelah puluhan tahun, konflik berdarah di Palestina seakan telah menjadi tayangan kelam berkepanjangan yang dimaklumi. Tidak ada satupun solusi damai yang memiliki hasil langgeng. Salah satu akar masalahnya, tidak ada satupun solusi yang dirancang berdasarkan akar konflik. Kumpulan negara adidaya yang mengawal alur perdamaian seperti mengidap amnesia massal sejarah Israel-Palestina. Tidak ada satupun negara besar mau mengakui bahwa Israel telah secara sistematis melakukan pendudukan ilegal dan penjajahan.

Negara-negara besar sepertinya lupa, sebelum Israel mendeklarasikan dirinya pada 1948, hampir 1200 tahun lamanya warga Arab telah mendiami Palestina secara turun temurun. Mereka juga seperti tidak mau tahu bahwa klaim ideologis Israel atas Palestina sebagai tanah kelahiran, hanya didasarkan kepada kerajaan yang hidup selama 73 tahun. Hingga deklarasi pendirian negara Israel, secara total hanya 6% tanah yang dimiliki secara legal oleh pendatang berdarah Yahudi.

Selebihnya, gerakan teror seperti Irgun, melancarkan aksi sistematis pengusiran dan perampasan tanah dan rumah penduduk lokal. Satu di antara kisah pilu yang terkenal terjadi di Deir Yassin. Pada 9 April 1948, tentara dan milisi zionis mengepung kampung yang dihuni oleh 750 orang itu. Semua penduduk dikumpulkan. Lelaki wanita. Tua muda. 250 orang dibantai tanpa ampun. Pemerkosaan massal terjadi. Puluhan rumah luluh lantak rata dengan tanah.

Sisa-sisa kekejaman ini disaksikan langsung oleh dokter palang Merah Internasional yang tiba sehari setelahnya. Ini jelas genosida. Tapi toh siapa ambil pusing. Taktik teror ini terbukti berhasil mengusir 725 ribu warga Arab Palestina dari tanah mereka sendiri. Anehnya pihak yang terusirlah yang dicap sebagai teroris!


Deja Vu Indonesia Palestina

Saya jadi teringat kisah Westerling. Serdadu Belanda yang bertanggung jawab terhadap gugurnya puluhan ribu nyawa tak berdosa di Sulawesi. Guna memadamkan pemberontakan dan serangan terhadap kependudukan administratif Belanda, perwira berpangkat Kapten ini menggunakan taktik yang sangat brutal.

Westerling memimpin operasi langsung ke kampung- kampung yang dicurigai telah memberi bantuan bagi pejuang kemerdekaan saat itu. Saat mereka enggan menyerah, pasukan Belanda akan menggiring seluruh penduduk tak peduli lelaki atau wanita, tua atau muda. Seluruhnya dikesekusi. Kampung dihancurkan. Ini peringatan agar kampung lain berpikir dua kali untuk memberi bantuan yang sama.

Dalam dua bulan saja, Raymond Westerling memimpin langsung pembantaian 4000 orang. Cara ini efektif. Pejuang terdesak dan memilih bersembunyi di pegunungan. Toh Westerling tidak merasa bersalah. Dalam memoirnya dia menjustifikasi tindakannya sebagai aksi polisionil. Indonesia harus dibersihkan dari aksi teroris yang mengganggu. Eksekusi publik adalah sarana yang tepat bagi para kriminal. De javu. Pejuang pasti sama dengan teroris.

Masihkah Kita Peduli?

Palestina jauh dari Indonesia. Tidak kurang 9.000 kilometer jarak penerbangan. Indonesia juga tidak sepi dari masalah. Haruskah kita peduli?

Saya memang tidak lahir pada zaman revolusi kemerdekaan. Seperti layaknya puluhan juta rakyat Indonesia lainnya. Lahir dan menikmati hidup tanpa harus merasakan derita dan malu penjajahan. Namun, jika kita sedikit saja memejamkan mata, dan membayangkan hidup 67 tahun lalu. Betapa putus asanya hidup tanpa kemerdekaan.

Pedihnya proklamasi tanpa pengakuan negara lain. Hanya ada 5 negara yang bergegas mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir, Arab Saudi, Qatar, Suriah dan Libanon. Hebatnya, Palestina justru memberikan dukungan setahun sebelum Indonesia resmi memproklamasikan diri. Pada 6 september 1944, mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al Husaini, menyiarkan dukungan terbuka atas kemerdekaan Indonesia di Radio Berlin berbahasa Arab.
Lalu, Pantaskah kita lupa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar